Rabu, 09 Maret 2016

Yes!!

Kelas adalah kumpulan dari pribadi pribadi unik.  Setidaknya ada tigapuluh lima siswa dalam satu kelas. Setiap siswa dalam kelas itu adalah pribadi yang unik. Lingkunganlah yang menyumbangkan andil besar membentuk keunikan itu. Dalam kelas yang merupakan sebuah kelompok,  pribadi pribadi unik ini saling berinteraksi membentuk karakteristik kelompok.

Karakteristik kelas jurusan teknik secara umum memang unik. Sembilanpuluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen siswanya berjenis kelamin cowok. Bahasa komunikasi mereka cenderung kasar, mengabaikan perasaan. Suka menantang dan suka ditantang. Tidak suka diremehkan tetapi selalu hobi meremehkan orang lain. Tidak bertanggungjawab, tidak disiplin dan cenderung tidak mau mengikuti aturan.

Selasa, 08 Maret 2016

Serunya Jadi Siswa SMK (1)

Hari ni aku disamperin beberapa siswa untuk ngobrol ringan. Saat ini mereka sedang menjalani masa-masa penting, tahun terakhir SMK. Aku jadi ingat obrolan dengan salah seorang teman yang juga guru SMK. Si teman saya ini dalah guru mata diklat produktif, yaitu mata diklat utama bagi siswa SMK. Bisa dibilang, dialah guru SMK yang sesungguhnya.

Waktu itu dia bertanya, "Sejak kapan ngajar di SMK?". Kubilang, "Tahun 2009". "Sebelumnya?". Wah dia kepo juga nih. Tapi aku jawab juga pertanyaannya, "Mengajar di MA". Maka dengan muka ceria penuh kebanggaan si teman saya itu berkata, "Seru kan ngajar di SMK"

Senin, 07 Maret 2016

The Radio





Aku punya kebiasaan mendengarkan radio sambil menjalani aktifitas  pagi. Stasiun radio favoritku ini  selalu mengawali siarannya dengan acara pengajian, jam lima pagi sampai jam enam. Pas banget kan. Saat itu aku sudah sholat subuh dan mulai menjerang air,  cooking rice dan cuci piring.

Jam enam acara pengajian selesai dilanjutkan dengan beberapa acara informative seperti Kabar pasar. Acara ini memantau harga sembako di wilayah kami. Reporternya mengunjungi pasar tradisional secara bergantian. Banyak sih acara acara yang menarik, tetapi karena harus berangkat kerja, biasanya aku hanya kebagian sepotong sepotong saja.

Minggu, 06 Maret 2016

Ngomongin Jodoh

Baca tulisan bang Syaiha itu bikin hati tergelitik. Kali ini yang menggelitik ku adalah  tulisannya yang berjudul : Ketika Cintamu tak direstui.

Aku jadi mikir nih. Bukan karena aku mengalami nasip seperti gadis yang ada dalam tulisan bang syaiha tetapi karena aku berada di pihak seberangnya.Bila dua generasi diperhadapkan anak dan orangtua, posisiku adalah posisi orangtua.

 gambar diambil dari sini

Dari jaman dulu, masalah cinta sejoli yang tidak direstui orangtua ini memang sudah heboh. Biasanya pembahasan tidak berimbang. Bila dipertentangkan, sudut pandangnya dari sisi anak muda. Sehingga kesannya pihak orangtua yang kebangetan. Mereka egois, tidak memahami perasaan anak muda dan lain sebagainya.

Minggu, 21 Februari 2016

Ketika Mati Lampu

Minggu,  21-2-2016

Pet.  Mati lagi.  Aku masih terbirit birit menuju abang sayur dan belum sampai.  Serentak beberapa perempuan sebayaku berteriak.  Aduh,  gak punya air. Aduh belum masak.  Aduh cucianku. Huuaa,  semua berteriak. Masalahnya juga mati lampu ini sudah dimulai sejak kemarin siang,  tengah hari dan baru nyala tadi malam tengah malam juga. Nyala beberapa jam,  disaat kami tertidur pulas dan ketika kami harus memulai aktifitas mati lagi.  Beberapa perempuan mengomel panjang lebar mengutuk PLN. Ya tentu saja PLN memang yang harus bertanggungjawab dalam hal ini, karena rakyat sudah mengamanahkan urusan perlistrikan ini padanya.

Mati lampu-pln-Dahlan Iskan,  itu yang ada di  otakku kemudian.  Aku pernah baca buku berjudul Dua Tangis Ribuan Tawa yang berisi tulisan DI saat menjadi Dirut PLN. Dalam buku itu diuraikan bagaimana ia berbenah dan berjuang keras untuk menghindari mati lampu.  Dan menurutku dalam kurun waktu itu aku memang tidak lagi uring uringan karena mati lampu.  Keduanya seperti nyambung saja.  Pembenahan managemen dan sistim vs PLN on terus.  Angkat topi deh buat DI.

Itu tadi DI vs PLN,  sekarang DI vs tulisan.  Siapapun tahu kalau bos Jawa Post itu piawai menulis. Ringan,  lincah,  renyah,  gurih,  kriuk kriuk atau apalah namanya, yang pasti baca tulisan DI itu tuman krasan.  Sampai sampai aku berlangganan lewat email. Wah bangga setiap kali dapat email tulisan baru DI.  Seperti dapat surat pribadi.  Padahal DI tak pernah mengenalku.

Hebatnya,  setiap kali baca tulisan DI aku selalu ingin menulis.  Tiba tiba ide itu muncul dan segera ingin memuntahkannya lewat tulisan. Pagi ini,  hanya gegara mati lampu aku jadi ingat  DI dan tiba tiba saja neg,  pengen muntah.  Nah,  inilah muntahanku.
#nulissetiaphari

Minggu, 14 Februari 2016

Profesi Pilihanku



Membaca surat terbuka mantan guru honor yang ditujukan kepada guru honor yang sedang demo  menuntut diangkat menjadi PNS, rasanya seperti  dilempari bara api pas di muka. Bukan bermaksud membenarkan atau menyalahkan pihak manapun ya, tetapi sebagai seorang guru yang berkecimpung di dunia pendidikan, dan sudah puluhan tahun merasakan menjadi guru honorer isi surat itu sungguh luar biasa.

Rasanya aku harus bertanya kembali pada diriku sendiri, mengapa aku memilih jalan ini. Mengapa aku memilih profesi ini.

gambar diambil dari sini

Rabu, 03 Februari 2016

derita tengah malam

Suara hujan masih terdengar ketika kesadaranku timbul kembali.  Peletak peletok enindih atap rumah yang terbuat dari asbes.  Sementara rasa itu terus mengusikku.  Berpusat diperutku, kini mulai menjalar ke bagian tubuhku yang lain. Ujung ujung jariku terasa lemah untuk digerakkan. Kelopak mataku juga terasa berat untuk dibuka

Apa aku sebaiknya bangkit ya?  kucoba petung dengan diriku sendiri.  Dengan keadaan lemas seperti ini? Tak yakin.  Teringat pesan di wa yang kuterima beberapa hari yang lalu.  Jangan langsung berdiri, tapi baringlah dulu sekian menit, duduk ditepi ranjang sekian menit, berdiri sekian menit baru ke kamar mandi.

Teringat mendiang pak Rudi yang ditemukan meninggal di kamar mandi, jam tiga dini hari. Ah jadi ngeri.  Jadi,  aku tak usah bangun ya.  Tetap berada diatas asur ini.  Tetap bersembunyi dibalik selimut tebal ini.  Tetap menikmati tubuh yang lemas ini.

Sampai kapan? Sampai besok pagi orang orang menemukan dalam keadaan mati?  Uh..mengerikan sekali.  Rasa itu tak sedikitpun berkurang.  Semakin berat malah.

Bismillah,  harus kuat. Gerakkan perlahan ujung jari tangan,  masih bisa.  Ujung jari kaki,  masih bisa.  Miring ke kiri,  bisa.  Meraih ujung dipan bisa.  Megangkat tubuh,  uah... Berat sekali.  Oh.. Tubuhku lemas, tak ada tenaga. Aku harus bagaimana?

#postsetiaphari