Jumat, 20 Desember 2013

Menakar Sukses



 
Sekian tahun yang lalu, saat menghadiri sebuah reuni alumni aku mendapat pertanyaan seperti ini: “Bu sebetulnya ukuran sukses itu apa sih?”. Yah, tak bisa dipungkiri. Reuni  seringkali mengakomodasi kegamangan.  Pasalnya, di sana berkumpul orang-orang yang pernah melewati bersam-sama sebuah fase kehidupan dan melanjutkannya pada fase yang lain. Reuni  mempertemukannya  dengan kondisi yang  berbeda.  Ada yang datang dan  terlihat bahagia.  Tampil penuh percaya diri. Memiliki kehidupan sosial ekonomi yang mapan. Sementara ada juga yang terlihat kurang PD dan merasa tidak bahagia.   
Di sanalah kemudian beredar gosip-gosip ringan dan muncul dalam ungkapan, wah si anu sudah sukses sekarang. "Gosip Kesuksesan" ini bisa bikin miris yang merasa belum sukses lo. Akhirnya muncul perasaan gamang, dan muncullah pertanyaan itu, ukuran sukses itu apa sih?

Kamis, 19 Desember 2013

Suatu Hari di Kelas Kimia





Suasana di kelas kimia.
Selama dua pertemuan yang lalu kami belajar tentang materi, sifat materi dan perubahan materi. Pertemuan kali ini kami akan belajar tentang perubahan kimia yang dilanjutkan dengan persamaan reaksi. Siswa sudah mengenali dan bisa membedakan ciri-ciri perubahan fisika dan perubahan kimia.
Kutuliskan pernyataan di bawah ini di papan tulis:
Gas Hidrogen direaksikan dengan gas oksigen membentuk uap air”.
Pada kata gas hidrogen, gas oksigen dan uap air sengaja kuberi garis bawah sebagai kata kunci yang harus mereka cermati. Selanjutnya kutantang mereka untuk menuliskan persamaan reaksi dibawah pernyataan tersebut. Beberapa diantara mereka memberanikan diri maju ke depan menuliskan persamaan reaksi di papan tulis.

Sabtu, 30 November 2013

Hati-hati, Anda Bisa Menjadi Sumber Konflik



Kalau direnung-renungkan, seringkali munculnya konflik kecil berubah menjadi besar itu karena ada pihak-pihak yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Boleh sih kita sebagai penonton menilai orang lain, tapi kalau sampai masuk ranah ranah yang tidak seharusnya tentu itu akan sangat berbahaya karena akan memicu permasalahan menjadi lebih besar lagi. 

Misalnya ada dua orang berselisih paham. Sebutlah Dian dan Amira. Karena galau menghadapi perseteruan itu Dian curhat ke sahabatnya, Rosy. Namanya juga orang yang terlibat, tentu Dian curhatnya yang membenarkan dirinya. Ya mana ada orang menyalahkan dirinya sendiri. Nah si Rosy ini terpengaruh dengan curhatan Dian. Ia menilai Amira lah yang salah dalam perselisihan ini. Selanjutnya Rosy melibatkan diri dalam konflik mereka berdua dan memposisikan diri sebagai pembela Dian. Konflikpun meluas. Perseteruan Rosy dengan Amira bisa jadi lebih hebat dari pada perseteruan Dian dan Amira. Selanjutnya konflik yang semula serupa bara  menjadi kobaran api yang membakar ketiganya.

Kamis, 28 November 2013

Hari Guru: Aku dan Kalian



Setiap hari kita bertemu. Kita melewati hampir setiap saat untuk bersama. Kita saling mengisi, saling melengkapi, saling belajar dan saling membutuhkan. Itu artinya kita adalah sepasang sahabat. Lebih tepatnya, waktu memaksa kita untuk bersahabat.
Sebagai sahabat, seharusnya kita saling mendamaikan. Kita tidak saling menyakiti satu dengan yang lain.  Seharusnya kita saling berbagi rasa nyaman.  Tapi faktanya tidak selalu demikian. Karena satu dan lain hal, kita menjadi saling menyakiti.

Jumat, 08 November 2013

Cukup 2 Meter Ke Depan



Keinginanku mempunyai kolam ikan akhirnya terwujud juga. Tidak tanggung-tanggung, suamiku membuat dua kolam ikan dengan ukuran sedang. Padahal aku cuma ingin punya kolam ikan kecil saja. Di dalamnya ada beberapa puluh ikan yang bisa di panen untuk dikonsumsi sendiri. Aku pernah melihat kolam kecil seperti itu di rumah saudaraku di Jakarta. Saat itu aku berpikir, di Jakarta saja yang lahannya sempit, saudaraku masih bisa memelihara ikan apalagi aku yang tinggal di desa dengan lahan yang cukup luas.

Mempunyai kolam ikan,  beberapa ekor ayam dan tanaman sayur mayur benar-benar menjadi sebuah mimpi. Dan aku tidak bosan-bosan mengungkapkan keinginan itu pada suamiku. Biar saja dia bosan mendengarnya dan tidak punya pilihan lain selain meluluskannya. 

Kamis, 12 September 2013

Malassss.....



Hari ini, salah seorang sahabatku mengeluhkan rasa malas. Katanya: gimana sih caranya mengatasi rasa malas. Ah rasanya setiap orang pasti pernah (sering) dihinggapi perasaan yang satu ini. Malas!!. Ogah ngapa-ngapain. Bawaannya pengen bengong aja. Duduk, berbaring atau tidur-tidur ayam. Tahu sih bahwa masih banyak tugas yang harus dikerjakan. Tapi kenapa ya berat banget buat ngerjainnya. Jadi deh kita benar-benar diam di tempat, melewatkan semua tugas.
Aku juga sering dihinggapi rasa malas seperti itu. Padahal, seringkali, setelah semua berlalu, kerasa banget nyeselnya. Misalnya ketika rasa malas itu menghinggapiku di saat koreksian menumpuk. Biasanya hal ini terjadi di minggu-minggu ulangan. Aku mengajar di beberapa kelas dan biasanya jadwal ulangan bersamaan dalam satu minggu. Mengoreksi pekerjaan lebih dari tigaratus kertas kerja dalam waktu hampir bersamaan adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Apalagi kalau tulisan mereka (maaf) tidak terbaca karena terlalu bagus atau terlalu jelek. Padahal pekerjaan masih terus berlanjut. Karena setelah koreksi harus dilakukan analisis terhadap hasil ulangan mereka. Memilah siapa yang harus mendapatkan program remidi dan siapa yang sudah tuntas. Menyiapkan soal-soal remidi dan seterusnya. Aduh... mengingat semua pekerjaan itu membuat semangat benar-benar drop.
Balik ke rasa malas tadi. Bagiku, aku setuju dengan kata-kata bijak yang mengatakan bahwa rasa malas adalah penghambat utama bagi seseorang untuk mencapai tujuannya. Dan setelah melalui riset yang cukup mendalam pada diri sendiri aku mencatat beberapa hal yang menjadi pemicu utama mengapa aku terjebak dalam rasa malas itu.
Pertama karena tugas-tugasku GJ. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan tetapi semuanya tidak detail. Suatu saat aku ingat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Pada saat lain, aku tidak mengingat satupun tugas yang harus kukerjakan. Jadi boleh dibilang kesadaran akan tugas-tugas itu timbul tenggelam. Ingat – tidak ingat – ingat – tidak ingat – dst. Saat tidak ingat tugas, aku santai sekali. Tapi disaat ingat tugas-tugas itu aku jadi stress. Terlalu banyak tugas dan aku tidak tahu tugas mana yang harus aku kerjakan lebih dulu. Disinilah titik munculnya rasa malas itu.
Kedua, boring. Terlalu lama dalam rutinitas. Mengerjakan pekerjaan yang sama terus menerus. Ada kalanya pekerjaan yang datang itu harus dikerjakan dalam durasi yang panjang. Kalau sudah datang pekerjaan yang seperti itu, boringpun tidak bisa dihindari dan muncullah rasa malas itu
Ketiga, sering muncul perasaan: aman. Begini, ketika ada kesadaran untuk mengerjakan tugas, seringkali nyelonong perasaan seperti ini, tenang.... tenang. Nyantai aja, Belanda masih jauh. Toh deadlinenya masih lama. Toh bisa dikerjakan nanti setelah ini. Toh cuma tinggal ngeprint saja. Dan seterusnya dan seterusnya. Perasaan itu seolah-olah membelai, menghibur dan membuatku merasa nyaman meski mengabaikan tugas. 
Di sini, aku merasa bahwa di dalam tubuhku ada dua kekuatan yang sama-sama berebut pengaruh. Yang satu mengajakku melakukan tugas yang satu lagi mengajakku mengabaikannya. Kunamakan saja kekuatan pertama itu sebagai kekuatan negatif sedangkan kekuatan kedua kunamakan kekuatan positif. Munculnya kekuatan negatif itulah yang memicu rasa malasku.
Berdasarkan ketiga hal itu, aku harus waspada begitu rasa malas itu muncul. Aku harus mengenali munculnya rasa malasku itu disebabkan karena apa. Untuk mengatasi rasa malas yang disebabkan karena overlapping tugas-tugas, aku  harus mendata semua tugas dan menetapkan dengan tegas target waktunya. Untuk ini aku mengandalkan program “to do” di HP ku. Kutuliskan semua tugas yang harus kukerjakan. Ketentukan kapan waktu kulaksanakan tugas itu. Setiap saat kubuka catatan itu sehingga aku seperti diingatkan untuk melakukan tugas-tugasku. Kupilih tugas-tugas yang paling ringan dan memungkinkan untuk kukerjakan saat itu. Misalnya untuk beberapa tugas seperti: “bayar telpun” , “ke apotik”, “belanja” dan “tarik tunai” bisa kukalukan sekali jalan. Untuk setiap tugas yang berhasil kuselesaikan hari itu, kuhapus dan kusisakan tugas-tugas yang belum kukerjakan.  Untuk tugas yang belum kukerjakan hari itu, kuperbaiki tanggal pelaksanaannya. Ia akan menjadi tugas yang harus kukerjakan esok hari. Setiap malam kutambahkan tugas baru. Kuperbaiki tanggal pelaksanaannya dan kuperiksa setiap saat. Ini membuatku merasa sedikit enteng. Yang membuatku senang adalah ketika aku berhasil men-delete satu tugas. Rasanya plong... banget.
Rasa malas tidak selamanya hilang meskipun aku sudah memanage tugas-tugasku dengan baik. Rasa malas itu muncul kembali ketika tugas-tugas itu kurasakan terlalu monoton. Untuk rasa malas yang seperti ini, kuhalau dengan cara meramu tugas-tugas itu dengan aktivitas lain yang menarik seperti mendengarkan musik atau nonton TV. Kadang-kadang juga dengan cara “sengaja keluar dari tugas”. Melakukan sesuatu yang bisa membuat fresh. Istilahnya nge-charge energi agar kembali pulih. Cuma yang sering jadi masalah, nge-charge-nya kebablasan. Lost control deh jadinya. Maka sebelum kebablasan buru-buru deh kembali ke “list to do”.
Yang paling sulit adalah bila rasa malas itu karena pengaruh kekuatan negatif yang munculnya dari dalam. Mau tidak mau aku harus melawannya. Caranya? Aku rajin membaca buku. Menyimak kisah orang-orang sukses. Dengan menyimak kisah orang-orang sukses itu  mau tidak mau akan timbul rasa iri dan tidak puas dengan keadaan  diri sendiri saat ini. Orang-orang sukses selalu mempunyai mental baja dan bisa mendisiplinkan diri sendiri. Sikap itulah yang kuharapkan dapat menginspirasiku untuk menghilangkan rasa malas itu. 
Ada cara lain yang lebih jitu untuk menghalau  malas? Boleh donk share di sini!


Rabu, 07 Agustus 2013

LOMBA ANNIDA-ONLINE “TUNJUKKIN MAAF LO!”



Maafkan aku ayah

Aku tak pernah berani membayangkan bagaimana perasaanmu kepadaku. Sekalipun misalnya hari ini engkau masih hidup, aku tak akan pernah berani bertanya tentang itu. Aku sungguh tak punya keberanian karena aku tahu betapa banyak aku telah melukai hatimu.

 

Dari kecil aku tahu engkau adalah ayahku. Tapi entah kenapa aku selalu tidak tahan berdekatan denganmu. Mungkinkah karena peristiwa waktu itu. Ketika aku duduk dipangkuan ibu, menyaksikan tanganmu yang kasar menampar muka ibu dan aku begitu ketakutan. Dan sejak itu aku seperti melihatmu sebagai monster. Engkau selalu menggunakan kekuatan tanganmu untuk mengungkapkan kejengkelanmu. Mukamu akan berubah menjadi api yang membara dan aku akan menunggu dibagian tubuhku yang mana tangan kuatmu akan menimpaku.

 

Ayah, aku sungguh bodoh. Bagaimana mungkin saat itu aku tidak menyadari bahwa tujuanmu sangat mulia. Engkau mengajarkan sholat kepada ku dengan cara menyuruhku ikut sholat bersamamu, kemudian engkau membaca semua bacaan sholat dengan keras agar aku bisa menirukannya dari belakang. Engkau mengajariku membaca Al Qur’an dengan tongkat kecil di tangan. Aku menerimanya dengan keterpaksaan saat itu. Kurasa karena engkau mengajarkannya dengan pukulan dan cambuk.

 

Setelah ibu meninggal dan engkau memutuskan untuk menikah lagi, jarak diantara kita semakin jauh. Aku tidak mengerti mengapa engkau mengambil keputusan itu dan mungkin engkau juga tidak mengerti mengapa aku menolak keputusanmu. Waktu itu kupikir engkau telah mengkhianati ibu. Saat beliau masih hidup engkau sering membuatnya menangis. Setelah beliau meninggal engkau buru-buru mencari penggantinya. Pertanyaan yang selalu memenuhi otakku adalah: apakah engkau tidak mencintai ibu? Sementara, ibu sangat mencintaimu.

 

Semua itu kusimpulkan dari cerita ibu. Kalian berdua adalah sepasang kekasih saat masih sekolah. Kalian berdua sama-sama ngenger di rumah salah satu saudara nenek yang kaya agar kalian bisa melanjutkan sekolah. Kalian memang masih saudara satu sama lain. Setelah lulus engkau menjadi guru di suatu daerah yang sangat jauh. Kalian terpisah oleh jarak yang sangat jauh.  Ditempat baru itu engkau menikah dengan seorang gadis dan membiarkan ibu terpukul.  Sampai bertahun-tahun ibu tetap menjomblo sampai berita bahwa engkau bercerai terdengar ibu. Engkau yang sudah memiliki dua anak bercerai dan ibu dengan lapang menerimamu kembali. Bukankah itu suatu bukti bahwa ibu sangat mencintaimu. Sementara saat kita bersama aku hanya tahu engkau sering sekali membuat ibu menangis.  

 

Perasaan kecewa itu terlalu dominan menguasai hatiku, membuatku menjadi liar. Aku ingin menentangmu. Dengan menentangmu aku ingin menunjukkan protes. Aku minggat dari rumah. Ketika masuk SMA aku tidak mau tinggal bersamamu. Aku ingin sekolah di kota lain. Engkau keberatam dan aku tak peduli. Di depan semua saudara ibu aku menuntutmu untuk menanggung semua biaya sekolahku. Mereka semua mendukungku. Aku telah mempermalukanmu di depan keluarga besar ibu. Pasti saat itu engkau sangat tertekan ayah. Maafkan aku.

 

Engkau telah melakukan semua kewajibanmu sebagai ayahku. Engkau mencukupi semua kebutuhanku. Engkau membiayai pendidikanku. Engkau mengkhawatirkan kesehatanku.  Seseorang telah mengatakan kepadaku bahwa engkau selalu mendoakanku. Yah aku percaya bahwa engkau selalu mendoakanku. Aku telah mengalami pergulatan hidup yang sangat sulit. Aku telah jungkir balik menghadapi kenyataan hidup yang sangat pahit. Tetapi Allah memeliharaku untuk tetap berada di jalanNya. Allah menurunkan hidayahNya setiap kali aku hendak tergelincir. Kuyakini semua itu karena doamu. Engkau telah mendoakanku meski aku adalah anakmu yang nakal. Terimakasih karena engkau tidak membenciku meski aku telah sering menyakitimu.

 

Sayang, kesadaran itu terlambat ayah. Kusadari semuanya setelah engkau meninggal dunia. betapa ingin aku bersimpuh di depanmu, memohon maafmu. Melihatmu ridlo memaafkanku. Kini kukirimkan kata maaf ini kepadamu. Aku yakin engkau mendengarnya dan aku juga yakin engkau akan memaafkanku.

 

Untuk kesekian kalinya ayah (dan akan selalu  kuulangi), maafkan aku


tulisan ini diikutsertakan dalam lomba annida-online  Tunjukkin maaf loe bulan Juli-Agustus 2013