Pernah mendengar nasehat seperti itu dari orang yang alim. Awalnya nasehat itu seperti nasehat-nasehat lain. Sebagai kata bijak yang sangat menyejukkan. Diingat. Dihafal dan diulang ulang. Tapi sungguh, memaknainya membutuhkan proses dan kepahitan.
Dulu aku punya seorang sahabat yang sangat karib. Saking karibnya aku dan dia kemana-mana berdua. Aku suka-suka aja diajak kesana ke mari untuk menyelesaikan urusannya. Bahkan aku sering sekali menomorduakan urusanku sendiri kalau sahabatku ini memintaku melakukan sesuatu.
Nah suatu ketika, aku mendapat musibah kecil. Aku sangat membutuhkan bantuan. Kurasa, sahabatku punya kemampuan untuk menolongku. Tetapi faktanya, ia bilang tidak bisa. Huuuu, serasa dapat zonk deh. Aku kecewa berat karena merasa ia tidak adil.
Ah tapi kejadian itu adalah kejadian duluuuuu sekali ketika aku masih SMA. Dan celakanya kejadian seperti itu berulang, berulang dan berulang sampai sekarang. Tapi setiap kali kejadian itu berulang, nasehat dari sang guru terngiang kembali. Jangan pernah berharap kepada manusia. Yah, jangan pernah berharap kepada manusia kalau tidak ingin kecewa.
Pertolongan Allah itu bisa lewat tangan siapapun. Bisa jadi ia melalui tangan orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya. Bahkan bisa jadi ia melalui tangan orang yang tidak kita kehendaki. Masyaalllah, sungguh hanya Dia yang kuasa mengentaskan hambaNya dari kesulitan.
Itulah sebabnya, maka jangan pernah juga melakukan sesuatu karena manusia. Kalau ingin berbuat baik ya jangan karena manusia. Kalau ingin menolak melakukan sesuatu juga jangan karena manusia. Kalau bekerja juga jangan karena manusia. Singkat kata, apapun yang kita lakukan jangan karena manusia. Semua berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya.
Beberapa kali peristiwa serupa terjadi. Ujungnya, aku mentertawakan diriku sendiri. Sudah dibilang Jangan! Eh ngotot.
Sekolah tidak hanya pada lembaga formal. Setiap apa yang terjadi dalam hidup ini adalah pelajaran
Senin, 25 Juli 2016
Selasa, 03 Mei 2016
Rejeki itu Memang Urusan-Nya
Aku mulai cemas. Diatas meja hanya teronggok tumpukan buku dan kertas tugas yang belum sempat kukoreksi. Tak kulihat benda berwarna toska yang kuharapkan ada disitu. Kulongokkan kepalaku ke laci meja yang gelap. Tak ada. Kurogoh ruang gelap itu dan aku berharap jemariku menyentuk benda itu. Tak ada.
"Ketemu bu?" tanya pak Nur yang tiba-tiba sudah nongol di belakangku.
Aku menggeleng. Kusenyumi dia meski hatiku teramat pedih. Sungkan juga menunjukkan rasa kecewa di depannya.
"Ya sudah pak, aku balik saja. Mudah mudahan ketemu di rumah" ucapku sambil tak lupa menyampaikan rasa terimakasih karena sudah merepotkannya.
Jumat, 29 April 2016
AKU MEMANG TIADA BERKAWAN
Aku memang tiada berkawan
Tak ada bahu untuk bersandar
Tak ada telinga untuk berbagi bisikan
Tak ada rengkuhan untuk sembunyi dari kegalauan
Aku memang tiada berkawan
Hanya batu yang teronggok diam
Hanya batang yang kaku menghunjam
Hanya dingin yang mencekam
Hanya sepi yang mematikan
Aku memang tiada berkawan
Jumat, 22 April 2016
Sesungguhnya ...
Pada dasarnya setiap manusia berada dibawah ancaman. Tidak ada manusia yang selalu aman. Mungkin saat ini anda merasaa baik-baik saja. Segala sesuatu berjalan normal. Usaha lancar. Pekerjaan dapat diselesaikan sesuai denga target. Kesehatan baik. Kebahagiaan begitu sempurna. Benarkah demikian.
Bila anda berada pada keadaan seperti itu, yakinkah anda bahwa semua itu akan langgeng? Yakinkah anda bahwa usaha anda akan lancar selamanya? Yakinkah anda bahwa anda bisa menyelesaikan semua pekerjaan anda dengan baik tanpa gangguan? Yakinkah bahwa kesehatan anda tidak akan terganggu? Yakinkah anda bahwa keluarga anda akan terus baik-baik saja? Yakinkah? Pastikah? Beranikah anda menjaminnya?
Lihatlah keluar. Pergilah ke rumah sakit. Lihatlah para penderita penyakit yang lemah dan menjalani hari-hari sulit mereka? Buka mata dan telinga lebar-lebar. Saksikan betapa banyak orang orang di sekeliling anda yang menghadapi masalah sehingga mereka kehilangan rasa nyaman. Mereka terbangun tengah malam dan merasa ketakutan sepanjang waktu.
Kemudian bertanyalah pada diri sendiri, apakah tidak mungkin anda mengalami hal seperti yang mereka alami? Kalau hati anda menjawab tidak, bertanyalah kembali, dapatkah anda menolaknya bila Allah sudah berkehendak? Tidak!!
Tak ada sesuatu terjadi di muka bumi ini kecuali atas kehendakNya, zat Robbul Izzati. Dia memberi kepada siapapun yang Ia kehendaki, tak terkecuali anda. Jadi mengapa harus pongah dengan melewatkan "pinta"?
Bila anda berada pada keadaan seperti itu, yakinkah anda bahwa semua itu akan langgeng? Yakinkah anda bahwa usaha anda akan lancar selamanya? Yakinkah anda bahwa anda bisa menyelesaikan semua pekerjaan anda dengan baik tanpa gangguan? Yakinkah bahwa kesehatan anda tidak akan terganggu? Yakinkah anda bahwa keluarga anda akan terus baik-baik saja? Yakinkah? Pastikah? Beranikah anda menjaminnya?
Lihatlah keluar. Pergilah ke rumah sakit. Lihatlah para penderita penyakit yang lemah dan menjalani hari-hari sulit mereka? Buka mata dan telinga lebar-lebar. Saksikan betapa banyak orang orang di sekeliling anda yang menghadapi masalah sehingga mereka kehilangan rasa nyaman. Mereka terbangun tengah malam dan merasa ketakutan sepanjang waktu.
Kemudian bertanyalah pada diri sendiri, apakah tidak mungkin anda mengalami hal seperti yang mereka alami? Kalau hati anda menjawab tidak, bertanyalah kembali, dapatkah anda menolaknya bila Allah sudah berkehendak? Tidak!!
Tak ada sesuatu terjadi di muka bumi ini kecuali atas kehendakNya, zat Robbul Izzati. Dia memberi kepada siapapun yang Ia kehendaki, tak terkecuali anda. Jadi mengapa harus pongah dengan melewatkan "pinta"?
Senin, 18 April 2016
Puisi Hati
Dalam sunyi kudengar suara angin
nyaring
Dalam hening kudengar suara desah
hangat
kudengar semua,
bahkan yang tak bersuara
Minggu, 17 April 2016
puisi salah
Ketika kesalahan menghampiri, gelisah menderai
Menggurat, memerihkan, menghancurkan
Menyiksa sepanjang waktu
Tak ada pembenaran untuk sebuah kesalahan, tak ada
Tak ada pembelaan untuk sebuah kealpaan, tak ada
Kesalahan terbesar adalah rasa tinggi
Rasa lebih, rasa benar, rasa paling, rasa besar
Kesalahan terbesar adalah lupa
Lupa hidup, lupa mati
Kesalahan tertinggi adalah menyerahkan kerendahan pada ketinggian
Ya Rabb, hari ini aku kelelahan mengejar ketinggian
Kakiku terserimpung oleh kegalauan yang memerikan
Jiwaku terkungkung dalam penyesalan
Aku jatuh pada jurang yang teramat dalam
Gelap
Sunyi
Ku berharap temui cahayaMu meski remang
Minggu, 20 Maret 2016
Tujuh Belas Tahun Euy
Tujuh belas tahun artinya Ami sudah menjadi pribadi mandiri. Apaan tuh pribadi mandiri. Ah itu istilah yang aku buat sendiri. Gak bakalan ada di kamus kamus. Maksud ku pribadi mandiri itu adalah pribadi yang dianggap sudah dapat bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya.
Maka, usia tujuh belas harus punya kartu Identitas diri. Kartu identitas ini berupa KTP atau Kartu Tanda Penduduk. Dengan memiliki KTP, berarti kalian sudah dianggap sebagai penduduk. Pada kehidupan sosial kalian dipertimbangkan sebagi pribadi. Kalau melanggar atau melakukan tindak kejahatan berarti kalian akan dihukum sebagai pribadi bukan atas tanggungan orangtua.
Langganan:
Postingan (Atom)