Sekolah tidak hanya pada lembaga formal. Setiap apa yang terjadi dalam hidup ini adalah pelajaran
Selasa, 03 Mei 2016
Rejeki itu Memang Urusan-Nya
Aku mulai cemas. Diatas meja hanya teronggok tumpukan buku dan kertas tugas yang belum sempat kukoreksi. Tak kulihat benda berwarna toska yang kuharapkan ada disitu. Kulongokkan kepalaku ke laci meja yang gelap. Tak ada. Kurogoh ruang gelap itu dan aku berharap jemariku menyentuk benda itu. Tak ada.
"Ketemu bu?" tanya pak Nur yang tiba-tiba sudah nongol di belakangku.
Aku menggeleng. Kusenyumi dia meski hatiku teramat pedih. Sungkan juga menunjukkan rasa kecewa di depannya.
"Ya sudah pak, aku balik saja. Mudah mudahan ketemu di rumah" ucapku sambil tak lupa menyampaikan rasa terimakasih karena sudah merepotkannya.
Jumat, 29 April 2016
AKU MEMANG TIADA BERKAWAN
Aku memang tiada berkawan
Tak ada bahu untuk bersandar
Tak ada telinga untuk berbagi bisikan
Tak ada rengkuhan untuk sembunyi dari kegalauan
Aku memang tiada berkawan
Hanya batu yang teronggok diam
Hanya batang yang kaku menghunjam
Hanya dingin yang mencekam
Hanya sepi yang mematikan
Aku memang tiada berkawan
Jumat, 22 April 2016
Sesungguhnya ...
Pada dasarnya setiap manusia berada dibawah ancaman. Tidak ada manusia yang selalu aman. Mungkin saat ini anda merasaa baik-baik saja. Segala sesuatu berjalan normal. Usaha lancar. Pekerjaan dapat diselesaikan sesuai denga target. Kesehatan baik. Kebahagiaan begitu sempurna. Benarkah demikian.
Bila anda berada pada keadaan seperti itu, yakinkah anda bahwa semua itu akan langgeng? Yakinkah anda bahwa usaha anda akan lancar selamanya? Yakinkah anda bahwa anda bisa menyelesaikan semua pekerjaan anda dengan baik tanpa gangguan? Yakinkah bahwa kesehatan anda tidak akan terganggu? Yakinkah anda bahwa keluarga anda akan terus baik-baik saja? Yakinkah? Pastikah? Beranikah anda menjaminnya?
Lihatlah keluar. Pergilah ke rumah sakit. Lihatlah para penderita penyakit yang lemah dan menjalani hari-hari sulit mereka? Buka mata dan telinga lebar-lebar. Saksikan betapa banyak orang orang di sekeliling anda yang menghadapi masalah sehingga mereka kehilangan rasa nyaman. Mereka terbangun tengah malam dan merasa ketakutan sepanjang waktu.
Kemudian bertanyalah pada diri sendiri, apakah tidak mungkin anda mengalami hal seperti yang mereka alami? Kalau hati anda menjawab tidak, bertanyalah kembali, dapatkah anda menolaknya bila Allah sudah berkehendak? Tidak!!
Tak ada sesuatu terjadi di muka bumi ini kecuali atas kehendakNya, zat Robbul Izzati. Dia memberi kepada siapapun yang Ia kehendaki, tak terkecuali anda. Jadi mengapa harus pongah dengan melewatkan "pinta"?
Bila anda berada pada keadaan seperti itu, yakinkah anda bahwa semua itu akan langgeng? Yakinkah anda bahwa usaha anda akan lancar selamanya? Yakinkah anda bahwa anda bisa menyelesaikan semua pekerjaan anda dengan baik tanpa gangguan? Yakinkah bahwa kesehatan anda tidak akan terganggu? Yakinkah anda bahwa keluarga anda akan terus baik-baik saja? Yakinkah? Pastikah? Beranikah anda menjaminnya?
Lihatlah keluar. Pergilah ke rumah sakit. Lihatlah para penderita penyakit yang lemah dan menjalani hari-hari sulit mereka? Buka mata dan telinga lebar-lebar. Saksikan betapa banyak orang orang di sekeliling anda yang menghadapi masalah sehingga mereka kehilangan rasa nyaman. Mereka terbangun tengah malam dan merasa ketakutan sepanjang waktu.
Kemudian bertanyalah pada diri sendiri, apakah tidak mungkin anda mengalami hal seperti yang mereka alami? Kalau hati anda menjawab tidak, bertanyalah kembali, dapatkah anda menolaknya bila Allah sudah berkehendak? Tidak!!
Tak ada sesuatu terjadi di muka bumi ini kecuali atas kehendakNya, zat Robbul Izzati. Dia memberi kepada siapapun yang Ia kehendaki, tak terkecuali anda. Jadi mengapa harus pongah dengan melewatkan "pinta"?
Senin, 18 April 2016
Puisi Hati
Dalam sunyi kudengar suara angin
nyaring
Dalam hening kudengar suara desah
hangat
kudengar semua,
bahkan yang tak bersuara
Minggu, 17 April 2016
puisi salah
Ketika kesalahan menghampiri, gelisah menderai
Menggurat, memerihkan, menghancurkan
Menyiksa sepanjang waktu
Tak ada pembenaran untuk sebuah kesalahan, tak ada
Tak ada pembelaan untuk sebuah kealpaan, tak ada
Kesalahan terbesar adalah rasa tinggi
Rasa lebih, rasa benar, rasa paling, rasa besar
Kesalahan terbesar adalah lupa
Lupa hidup, lupa mati
Kesalahan tertinggi adalah menyerahkan kerendahan pada ketinggian
Ya Rabb, hari ini aku kelelahan mengejar ketinggian
Kakiku terserimpung oleh kegalauan yang memerikan
Jiwaku terkungkung dalam penyesalan
Aku jatuh pada jurang yang teramat dalam
Gelap
Sunyi
Ku berharap temui cahayaMu meski remang
Minggu, 20 Maret 2016
Tujuh Belas Tahun Euy
Tujuh belas tahun artinya Ami sudah menjadi pribadi mandiri. Apaan tuh pribadi mandiri. Ah itu istilah yang aku buat sendiri. Gak bakalan ada di kamus kamus. Maksud ku pribadi mandiri itu adalah pribadi yang dianggap sudah dapat bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya.
Maka, usia tujuh belas harus punya kartu Identitas diri. Kartu identitas ini berupa KTP atau Kartu Tanda Penduduk. Dengan memiliki KTP, berarti kalian sudah dianggap sebagai penduduk. Pada kehidupan sosial kalian dipertimbangkan sebagi pribadi. Kalau melanggar atau melakukan tindak kejahatan berarti kalian akan dihukum sebagai pribadi bukan atas tanggungan orangtua.
Perjalananku, Belajarku
Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke Malang naik sepeda motor. Awalnya terpikirkan naik travel yang berangkat jam 07.00. Sampai di lokasi pukul 09.00 sesuai dengan jam yang ditentukan di undangan. Yang jadi masalah pulangnya. Di undangan hanya disebutkan jam 09.00 - selesai. Tak bisa diprediksi jam berapa acara selesai sebelum menanyakannya pada panitia penyelenggara. Terpikir juga naik bus. Turun pemberhentian bus Kacuk kemudian naik angkot. Tapi angkotnya apa dan turun dimana juga tak tahu.
Sebelum memutuskan naik sepeda motor aku diskusi dulu dengan Ami. Sudah kuduga tak perlu membujuk Ami untuk ikut bersamaku. Nyantai saja dia terima tawaranku. Gampang! katanya ketika kusampaikan kekhawatiranku tentang lokasi yang belum kuketahui.
Pagi hari,jam 06.00 kami berangkat tanpa sarapan. Aku janji mengajaknya sarapan pagi di Nayamul, warung makan di jalan lintas Malang Blitar (Jalibar). Ami yang nyetir. Aku di boncengan belakang sambil hati kebat kebit karena Ami lumayan kencang nyetirnya.
Sepanjang perjalanan, aku duduk tenang di belakang, sambil mengulur kenangan. Naik sepeda motor berboncengan ini memang sudah menjadi kebiasaan kami. Dulu ketika anak-anak masih kecil, merekalah yang duduk di belakang boncengan dan aku yang nyetir. Bila perjalanan tak terlalu jauh mereka duduk didepanku. Aku menjalankan sepeda motor dengan kecepatan rendah. Sambil jalan aku mengajaknya berbicara agar tidak mengantuk. Bila perjalanan jauh, mereka duduk di belakang. Beberapa kali harus kutepuk kakinya untuk memastikan mereka tidak mengantuk.
Kali ini Ami kecil yang dulu duduk manis di boncengan sekarang mengambil alih peranku. Bangganya dibonceng anak gadis sendiri. Dadaku serasa meletup letup saking bangganya. Apalagi Ami nyetirnya jago. Meski kencang tapi tenang. Saat menyalip kendaraan di depannya, perhitungannya juga matang.
Menjelang sampai lokasi, Ami mengajariku bagaimana menggunakan GPS. Aku gaptek. Nggak nyadar kalau HPku bisa digunakan sebagai penunjuk jalan. Ami bilang aku harus mengikuti gambar segitiga biru yang akan menunjukkan kemana kami harus berjalan. Amazing. Rute perjalanan sudah ditunjukkan. Kita tinggal mengikuti rute itu. Aku mengarahkan Ami sambil berkali-kali mengungkapkan ketakjubanku. Maksih ya Amiiii yang sudah mengajariku menggunakan GPS.
Sebelum memutuskan naik sepeda motor aku diskusi dulu dengan Ami. Sudah kuduga tak perlu membujuk Ami untuk ikut bersamaku. Nyantai saja dia terima tawaranku. Gampang! katanya ketika kusampaikan kekhawatiranku tentang lokasi yang belum kuketahui.
Pagi hari,jam 06.00 kami berangkat tanpa sarapan. Aku janji mengajaknya sarapan pagi di Nayamul, warung makan di jalan lintas Malang Blitar (Jalibar). Ami yang nyetir. Aku di boncengan belakang sambil hati kebat kebit karena Ami lumayan kencang nyetirnya.
Sepanjang perjalanan, aku duduk tenang di belakang, sambil mengulur kenangan. Naik sepeda motor berboncengan ini memang sudah menjadi kebiasaan kami. Dulu ketika anak-anak masih kecil, merekalah yang duduk di belakang boncengan dan aku yang nyetir. Bila perjalanan tak terlalu jauh mereka duduk didepanku. Aku menjalankan sepeda motor dengan kecepatan rendah. Sambil jalan aku mengajaknya berbicara agar tidak mengantuk. Bila perjalanan jauh, mereka duduk di belakang. Beberapa kali harus kutepuk kakinya untuk memastikan mereka tidak mengantuk.
Kali ini Ami kecil yang dulu duduk manis di boncengan sekarang mengambil alih peranku. Bangganya dibonceng anak gadis sendiri. Dadaku serasa meletup letup saking bangganya. Apalagi Ami nyetirnya jago. Meski kencang tapi tenang. Saat menyalip kendaraan di depannya, perhitungannya juga matang.
Menjelang sampai lokasi, Ami mengajariku bagaimana menggunakan GPS. Aku gaptek. Nggak nyadar kalau HPku bisa digunakan sebagai penunjuk jalan. Ami bilang aku harus mengikuti gambar segitiga biru yang akan menunjukkan kemana kami harus berjalan. Amazing. Rute perjalanan sudah ditunjukkan. Kita tinggal mengikuti rute itu. Aku mengarahkan Ami sambil berkali-kali mengungkapkan ketakjubanku. Maksih ya Amiiii yang sudah mengajariku menggunakan GPS.
Langganan:
Postingan (Atom)