Sekolah tidak hanya pada lembaga formal. Setiap apa yang terjadi dalam hidup ini adalah pelajaran
Minggu, 11 Juni 2017
Guruku
AKIBAT DURHAKA KEPADA GURU
Salah satu penyebab sulitnyarezeki adalah Durhaka kepadaGuru.
Sedikit kisah di Tarim ada seorang Murid yang durhaka kepada Gurunya, .
Hari Keenambelas
Tiba tiba sudah sampai di hari keenambelas. Nanti malam sudah malam nuzulul Qur'an. Ibarat orang melakukan perjalanan, jarak tempuh tinggal separoh lagi. Tubuh sudah mulai adaptasi dengan suasana lapar. Bacaan qur'an juga sudah melewati masa jenuh karena menghadapi surat surat yang panjang.
Sabtu, 10 Juni 2017
Deadline oh...
Gabungan kata yang selalu membuat dada terasa sesak adalah : dead line. Ini semacam monster yang menakutkan. Membuat detak jantung berpacu, keringat dingin keluar dan bagi sementara orang bisa membuat otak tidak berfungsi normal.
Minggu, 04 Juni 2017
Hanya Seandainya
Beberapa hari ini membuka gurusiana.com sulitnya minta ampun. Dalam hati saya bertanya-tanya. Apakah hal itu karena blog guru ini sedang diburu banyak orang, sedang dalam perbaikan atau mungkin perangkat saya yang bermasalah. Ya sudahlah. Kan masih ada rumah yang lain. Di sini saja, di rumah sendiri.
Ha...ha... kalau di sana kn tempat kos. Kos yang tidak usah bayar. Enaknya.
Ha...ha... kalau di sana kn tempat kos. Kos yang tidak usah bayar. Enaknya.
![]() |
| Istana gebang |
Sabtu, 03 Juni 2017
Ayo Mondok
Malas lagi
Hari ini kembali belajar. Lagi lagi ah lagi lagi penyesalan selalu datang kemudian.
Hari ini sudah niatan membeli daging dan mengantarkan ke pengorder. Niatnya dibelikan pagi pagi saja sebelum melakukan aktifitas lain. Niatnya! Tetapi kemudian ada yang mengusik, kenapa buru buru. Bukankah hari masih pagi. Bukankah bisa dilakukan agak siang menjelang berangkat kerja. Kan tinggal datang, ditimbangin, dikresekin terus diantar ke pemesan. Beres kan.
Iya, kalau semuanya berjalan normal. Al hasil, ketika matahari sudak beranjak, mesti masih dibalut rasa malas, saya berangkat menuju rumah bapak si pemilik usaha pemotongan ayam. Sampai di sana kiosnya sepi. Sudah begitu saya panggil panggil gak ada sahutan. Agak lama sampai datang seseorang berbaik hati menolong memanggilkan bapaknya di belakang sana.
Wah bu, ayamnya tinggal satu. Tunggu ya masih disembelih. Olala. Masih harus menunggu beberapa waktu lamanya. Kalau saja saya datang lebih awal, mungkin saya mendapat pelayanan yang lebih cepat. Tidak harus menunggu.
Ini hanya soal mengelola rasa malas
Hari ini sudah niatan membeli daging dan mengantarkan ke pengorder. Niatnya dibelikan pagi pagi saja sebelum melakukan aktifitas lain. Niatnya! Tetapi kemudian ada yang mengusik, kenapa buru buru. Bukankah hari masih pagi. Bukankah bisa dilakukan agak siang menjelang berangkat kerja. Kan tinggal datang, ditimbangin, dikresekin terus diantar ke pemesan. Beres kan.
Iya, kalau semuanya berjalan normal. Al hasil, ketika matahari sudak beranjak, mesti masih dibalut rasa malas, saya berangkat menuju rumah bapak si pemilik usaha pemotongan ayam. Sampai di sana kiosnya sepi. Sudah begitu saya panggil panggil gak ada sahutan. Agak lama sampai datang seseorang berbaik hati menolong memanggilkan bapaknya di belakang sana.
Wah bu, ayamnya tinggal satu. Tunggu ya masih disembelih. Olala. Masih harus menunggu beberapa waktu lamanya. Kalau saja saya datang lebih awal, mungkin saya mendapat pelayanan yang lebih cepat. Tidak harus menunggu.
Ini hanya soal mengelola rasa malas
Rabu, 17 Mei 2017
Kehilangan Itu Menyakitkan
Ide sudah ada di kepala. Bahkan, beberapa kalimat penting sudah berjajar rapi siap dituangkan. Tetapi raa malas muncul. Nanti sajalah. Srbentr lagi. Nyantai dulu. Malas buka tab. Ngantuk. Akhirnya tulsan itu tidak pernah ada.
Ketika kesempatan sudah ada. Tab sudah ditangan. Jari jari sudah siap di atas keypad, ide itu hilang tak berbekas.
Kalau sudah begitu, tinggalah penyesalan yang tak berguna. Seringkali rasa malas itu merusak segalanya. Ah bukan hanya seringkali tetapi selalu. Rasa malas membuat saya sering menunda pekerjaan dan kehilangan berbagai kesempatan.
Ketika kesadaran datang, saya seperti orang waras. Membuat list pekerjaan dan tugas tugas yang harus saya selesaikan. Tetapi bila rasa malas datang list yang sebegitu banyak terabaikan. Saya seperti orang yang tidak punya beban, tidak punya tugas yang harus dikerjakan. Benar benar free. Maka peganglah HP. Cek wa, cek notifikasi FB. Baca komentar dan status yang berseliweran. Membaca berita apa saja. Bukankah semua itu hanya layak dikerjakan oleh mereka yang sudah tak punya beban? Nah masalah akan muncul pada saat saya harus berhadapan dengan deadline.
Menurut saya, perjuangan paling berat adalah melawan rasa malas. Rasa malas itu seperti kekuatan yang sangat besar dan sulit dikalahkan. Saya harus memiliki energi yang lebih besar untuk melawannya. Celakanya kedua kekuatan itu ada di dalam diri saya.
Apakah anda setuju?
Langganan:
Postingan (Atom)




