Minggu, 14 Februari 2016

Profesi Pilihanku



Membaca surat terbuka mantan guru honor yang ditujukan kepada guru honor yang sedang demo  menuntut diangkat menjadi PNS, rasanya seperti  dilempari bara api pas di muka. Bukan bermaksud membenarkan atau menyalahkan pihak manapun ya, tetapi sebagai seorang guru yang berkecimpung di dunia pendidikan, dan sudah puluhan tahun merasakan menjadi guru honorer isi surat itu sungguh luar biasa.

Rasanya aku harus bertanya kembali pada diriku sendiri, mengapa aku memilih jalan ini. Mengapa aku memilih profesi ini.

gambar diambil dari sini

Rabu, 03 Februari 2016

derita tengah malam

Suara hujan masih terdengar ketika kesadaranku timbul kembali.  Peletak peletok enindih atap rumah yang terbuat dari asbes.  Sementara rasa itu terus mengusikku.  Berpusat diperutku, kini mulai menjalar ke bagian tubuhku yang lain. Ujung ujung jariku terasa lemah untuk digerakkan. Kelopak mataku juga terasa berat untuk dibuka

Apa aku sebaiknya bangkit ya?  kucoba petung dengan diriku sendiri.  Dengan keadaan lemas seperti ini? Tak yakin.  Teringat pesan di wa yang kuterima beberapa hari yang lalu.  Jangan langsung berdiri, tapi baringlah dulu sekian menit, duduk ditepi ranjang sekian menit, berdiri sekian menit baru ke kamar mandi.

Teringat mendiang pak Rudi yang ditemukan meninggal di kamar mandi, jam tiga dini hari. Ah jadi ngeri.  Jadi,  aku tak usah bangun ya.  Tetap berada diatas asur ini.  Tetap bersembunyi dibalik selimut tebal ini.  Tetap menikmati tubuh yang lemas ini.

Sampai kapan? Sampai besok pagi orang orang menemukan dalam keadaan mati?  Uh..mengerikan sekali.  Rasa itu tak sedikitpun berkurang.  Semakin berat malah.

Bismillah,  harus kuat. Gerakkan perlahan ujung jari tangan,  masih bisa.  Ujung jari kaki,  masih bisa.  Miring ke kiri,  bisa.  Meraih ujung dipan bisa.  Megangkat tubuh,  uah... Berat sekali.  Oh.. Tubuhku lemas, tak ada tenaga. Aku harus bagaimana?

#postsetiaphari

Proses dan hasil



Bongkar bongkar folder nemu tulisan ini. Tulisan yang lahir dua tahun yang lalu, sementara kegiatan yang sama akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Semangat MESM Remaja.


“Pelaksanaan kegiatan Mesm kali ini sangat menyenangkan. Pesertanya termasuk kategori enak diatur”. Begitu komentar salah seorang crew kegiatan Mesm yang diselenggarakan di Radio Mayangkara hari ini, Kamis tanggal 27 Maret 2014. Komentar senada disampaikan lagi di akhir acara. Ketika guru pendamping berdiri berjajar di depan dan peserta berjalan merambat bergantian menyalami beliau-beliau, kembali salah seorang crew memberikan komentar positifnya. “Hari ini guru pendampingnya banyak sekali. Ini menunjukkan bahwa guru-guru kalian sangat peduli  pada kalian”

Tentu saja, komentar-komentar itu membuat dada saya terasa sangat sesak karena bangga. Sebagai salah satu bagian dari institusi ini, apesiasi positif itu tentu merupakan bentuk pengakuan terhadap prestasi kami. Bangga juga karena menjadi guru dari anak-anak yang “dilihat” baik meski dalam keseharian diperlukan perjuangan dan deraian air mata untuk mewujudkan semua itu.

Tetapi pelajaran berharga yang sangat mendalam dari komentar bagus itu adalah selalu ada dua hal yang sangat erat hubungannya dalam berbagai keadaan. Sebab dan akibat. Proses dan hasil. Dalam hal ini prosesnya adalah kepedulian. Dua belas orang wali kelas hadir mendampingi siswa perwaliannya. Mengecek absensi untuk mencari tahu siapa diantara siswanya yang tidak hadir dan apa penyebabnya. Menunggui dengan sabar sampai akhir kegiatan. Menyambut kedatangan mereka dan mengantar kepulangan mereka mungkin menjadi hadiah atas “jerih payah” mereka.

Pasti tak banyak yang tahu bahwa hampir sebagian besar dari mereka  jiwanya sangat kering. Orangtua yang tidak lengkap karena salah satu atau keduanya sudah meninggal. Orangtua yang berada jauh dari mereka. Orangtua yang ada dan dekat dari mereka tetapi seperti bermil-mil jaraknya. Kekeringan itu mengacaukan jiwa mereka. Seperti sebuah perjalanan yang tanpa arah. Maka sedikit kepedulianlah yang akan membuat mereka berhenti sejenak untuk mengenali diri mereka sendiri.

Hasil disini adalah sikap mereka. Santun, hormat dan penghargaan terhadap diri sendiri, adalah karakter yang harus mereka bangun agar mereka dapat mencapai mimpi mereka. Proses dan hasil, keduanya adalah tugas penting yang akan selalu beriringan. Maka, jangan berharap mendapat hasil yang baik bila anda tidak melakukan proses yang baik.

Minggu, 31 Januari 2016

Malas

Ini penyakit.  Ini harus diobati.  Karena penyakit ini luar biasa ganasnya.  Ia sangat mematikan.  Bikin kapal besar karam.  Bikin pesawat terbang terbakar dan jatuh.  Bikin masa depan hancur.  Beneran ini.  Bener bener bener.

Ketika rasa malas ini mendera,  kaki terasa berat untuk melangkaf., tangan juga tiba tiba lemes, pandangan mata redup,  mulut menguap karena kantuk. Terus mati lampu.  Huuu langsung sorak sorai hati ini.  Ini mah cara lain untuk memaklumkan diri tidak melakukan sesuatu.

Padahal ya tahu juga lo kalau tugas,  kewajiban yang harus dikerjakan gak ada hubungannya dengan kemalasan.  Tidak otomatis hilang meskipun dibuat seolah kemalasan bisa dimaklumi.

Apalagi dengan urusan menulis yah. Katanya ingin jadi penulis.  Katanya itu mimpi besar.  Ingin terbebas dari tugas tugas berat agar punya waktu buat baca dan nulis.  Hah emang selama ini nggak punya waktu buat nulis?.  Masak sih.  Terus waktunya buat apa dong.  Ngepo ini teman facebook.  Gulung layar jauh jauh untu baca berita di beranda.  Padahal tahu juga loh kalau judul judul berita itu selalu "menyesatkan". Judulnya A isinya Z.  Sudah sering kali dapat zonk tapi nggak kapok kapok juga.

Terus setelah semua terpenuhi,  waktu yang cukup luang, sarana yang tersedia,  masih juga cari cari alasan toh.  Kalau pagi bilangnya kepagian.  Kalau siang panas,  enakkan leyeh leyeh mendinginkan otak (oalah emang tuh otak kapan dipanasinnya), tarus kalau sore nanti aja setelah sholat maghrib,  begitu sampai di waktu itu nanti aja menjelang tidur,  terus saat menjelang tidur huaahhh ngantuk.  Walah walah, padahal disaat yang dikeluhkan kantuk itu pas giliran dengar dering pemberitahuan langsung mlorok.

Dasar tak tahu malu.  Terus ikuti aja rasa malas itu.  Terus ikuti, dan hingga sampai di suatu ketika kau sadari tubuhmu berada diujung jurang.  Mau???

#postsetiaphari
Belajar menulis, hindari malas

Selasa, 11 Agustus 2015

Masih nggak percaya?

Untuk kesekian kalinya kehidupan mengajarkan ilmu kepadaku. Ini bukan sekedar teori yang terdengar klise. Tapi sesuatu yang nyata.
Entah dapat.suntikan apa, dari mana tiba tiba suami nyeletuk: pengen nanam buah tin.
Yah.... Kenapa tertariknya baru sekarang. Padahal sejak setahun yang lalu aku sudah pernah cerita tentang pohon ini.
Tapi ya sudahlah. Aku tunggu saja kejadian selanjutnya. Hafal deh, hidup bersama dia seperti bersepeda dijalan berbatu. Banyak tiba tiba yang nggak ketahuan asal dan juntrungannya. Eh ini bukan ngeluh ya. Cuma sekedar curhat aja.
Ok singkat cerita, suami ngajak berburu buah tin ke Kediri.
"Itu yang paling dekat. Aku sudah googling"
Ya itulah andalannya.
Aku membujuknya untuk mengajak ami saja, tapi tidak berhasil. Akhirnya malah kami bertiga yang berangkat.
Dapatlah itu buah tin. Tak terkira girangnya dia, mendapatkan hasil buruan.
Hari hari setelahnya, ia disibukkan dengan tanaman tanaman berdaun menjari itu.
Suatu hari kami kedatangan tamu, buyer. Sepasang suami istri dengan balita berusia dua tahunan. Tujuan utamanya adalah membeli azolla, dagangan utama suamiku. Begitu dia berjalan didekat deretan pohon tin yang mulai sehat, spontan laki-laki itu berteriak, "Wah..
Ada pohon tin. Mantap ini. Pak jualan pohon tin juga to?"
Tampaknya surprise sekali dia. Laki laki itu ngotot membelinya meskipun sang istri rada keberatan. Yah..mungkin karena itu di luar rencana mereka. Berkali kali lelaki itu mengatakan, "Saya sudah mencarinya kemana mana. Saya ingin tanam pohon ini sejak sebelum menikah dan baru mendapatkan setelah anakku berusia dua tahun. Benar benar berjodoh".
Singkat cerita mereka beli juga meski harganya lumayan mahal.
Kejadian ini luar biasa menurutku. Masalahnya kami mendapatkan pohon itu di Kediri. Rumah pembeli tadi Jombang, sedang rumah kami Blitar. Unik kan? Logikanya, jarak Jombang -Kediri lebih dekat dengan Jombang - Blitar. Kenapa dia tidak beli di Kediri saja.
Ini menyadarkanku bahwa ketentuan Allah berlaku.
Suka suka Dia mau meletakkan dimana rejeki kita berada.
Suka suka Dia mau menunaikan hajat kita kapan. Mau seminggu, sebulan, setahin dua tahun, apa peduliNya.
Lah... Kenapa kita tetap saja nggak percaya kalau rejeki Dia yang punya, Dia yang mengaturnya.

Kamis, 18 Juni 2015

Mengapa harus berbohong


Dunia kita ini dunia bohong. Banyak sekali kita temui pembohong pembohong di sekitar kita. Anak anak membohongi orangtua dan gurunya. Suami.mrmbohongi istrinya. Istri membohongi suaminya. Penjual membohongi pembeli. Pembeli membohongi penjual. Pengguna jalan membohongi polisi. Siapa pembohong itu? Mungkin diri kita sendiri.
Sifat suka membohongi itu adalah penyakit hati. Kebohongan identik dengan kejahatan. Kejahatan apapun bermula dari kebohongan. Guru agama saya dulu pernah bercerita bahwa Nabi Muhammad pernah menasehati orang jahat dengan satu nasehat sederhana: jangan berbohong. Dan setelah ia konsisten tidak berbohong maka berangsur angsur orang yang jahat itu menjadi baik.

Rabu, 03 Juni 2015

Makasih google

Kudapati HP ku tidak bisa on. Death!! Gak bisa nyala meskipun sudah kutekan tombol power lamaaa sekali. Rasa panik langsung saja menyergapku. Ini sungguh kejadian luar biasa. Hari ini sebelum HPku ngadat saja beberapa teman sudah komplain karena aku tidak merespon pesan singkatnya.

Sepertinya semakin hari aku dan banyak orang semakin tergantung dengan benda ajaib ini. Mungkin ini ketergantungan yang menjerumuskan. Tapi OK lah lupakan dulu semua itu. Sekarang pikirkan bagaimana menyelesaikan masalah ini.

"Sudahlah, besok bawa ke counter yang bisa membetulkan kembali HP ini. Bereskan?! Ami sudah berusaha memberikan solusi.

Aku manggut-manggut tak ikhlas. Aku harus mencuri waktu untuk ke counter. Jam berapa? Besok ada rapat koordinasi jam sepuluh.

Benar-benarkah tak ada yang bisa dilakukan sebelum benar-benar menyerah?

Manual Book! Segera kucari manual book yang masih tersimpan rapi di wadahnya. Disana lebih banyak informasi tentang bagaimana mendownload aplikasi dan menggunakan fitur-fitur yang ada. Kurasa satu satunya info penting adalah link situs resmi Sony Experia.

Aku tak tahu apakah ini cukup bermanfaat. Ah apa salahnya mencoba. Maka kumulailah dengan mengunjungi web resmi tapi lagi-lagi aku hanya di php-in saja oleh web ini. Semua jendela hanya menyodorkankan info seputar harga, assecories, aplikasi de el el. Sepertinya tak akan banyak membantuku dalam menyelesaikan masalahku.

Huaah...galau gila nih. Di ujung harapan yang tersisa aku menghampiri sobat lama, google. Ngawur aja ku tulis "sony experia nggak nyala" Tuh kan, bener bener konyol bikin key wordnya.

Tapi tak dinyana tak diduga, muncul juga tulisan yang ngebahas tentang masalahku. Walah, malah ditunjukkin beberapa cara untuk mengatasinya. Diantara beberapa petunjuk, hanya satu petunjuk yang aku paham, yaitu "Tekan tombol power dan vol up bersamaan sampai hp bergetar".

Bismilah, kulakukan langkah itu sambil terus berharap HP bisa nyala. Det..det..det, hoooi hp yang tadi mati...ti... tiba tiba bergetar dan mulai nyala kembali. Oh god, thankyou

Maka dalam waktu singkat, notifikasi-notifikasi menampakkan aktifitasnya. Oh senangnya.

Ehm tunggu dulu, masih ada satu masalah lagi. Mencari tahu nomer simpatiku yang gak bisa aku ingat. Kenapa nggak dicoba tanyain ke google aja. Siapa tahu...siapa tahu.

Dan bener...bener bisa. Tekan *808# klik OK/call. Yess, dalam waktu sepersekian detik muncul nomer ku sendiri.

Yang punya masalah seperti aku, mungkin bisa ikutin langkah di atas. Semoga berhasil ya.