Minggu, 26 Mei 2013

Anda dan Keputusan Anda

Anda dan Keputusan Anda



Nasib anda adalah buah dari keputusan anda.
Apa yang terjadi pada anda hari ini adalah akibat dari keputusan yang anda ambil kemarin. Apa yang akan terjadi pada anda esok hari adalah akibat dari keputusan yang anda ambil hari ini. Singkat cerita, mengambil keputusan itu sangat penting. Karena salah dalam mengambil keputusan, nasib  taruhannya. Nasib baik atau nasib buruk. Kalau nasib baik sih senang ya, tapi kalau nasib buruk?
Mengambil keputusan itu penting. Sangat penting. Kalau dirunut sih, urut-urutannya begini:























 

Kita punya harapan tapi fakta yang kita hadapi nggak sama dengan harapan kita. Ada perbedaan atau kesenjangan. Kesenjangan inilah yang kita kenali sebagai masalah. Nah saat kita menghadapi masalah, kita akan berusaha mencari solusi atau jalan keluar. Disini kita dihadapkan pada beberapa pilihan. Pilihan A, B, C atau D atau mungkin masih banyak lagi pilihan yang lain. Bingung kan mau pilih yang mana?

Sabtu, 18 Mei 2013

Fakta Menarik Tentang Kesungguhan



Kalau anda berpikir untuk menjadi seorang pemain piano anda harus memiliki tangan dengan jari-jari lengkap, anda salah. Hee Ah Lee  adalah seorang pianis dari korea yang hanya memiliki 4 jari. Ia dijuluki the four finger pianist. Meski hanya memiliki empat jari Hee A telah memikat masyarakat dunia dengan permainan pianonya.
Kalau anda berpikir untuk menjadi seorang pelari harus memiliki kaki yang kuat, anda salah. Bob Willen adalah seorang bekas tentara yang kehilangan kedua kakinya tetapi ia berhasil menyelesaikan lari marathon 10 kilometer, dengan menggunakan kedua tangannya.

Jumat, 05 April 2013

Awas Bahaya Penyakit Ekskusitis



Pertama kali mengenal nama penyakit ini, rasanya aneh. Ekskusitis. Berasal dari kata excuse me. Tahu sendiri kan arti dari kata itu dalam bahasa Indonesia. Ekskusitis ditengarai sebagai suatu penyakit mental. Penderitanya adalah mereka yang cenderung memaklumkan  kekurangmampuannya. 
Pernahkah anda mendengar orang mengucapkan kalimat-kalimat seperti di bawah ini:
“Tentu saja aku tidak mendapatkan nilai sebagus dia, karena kesempatanku untuk belajar tidak secukup kesempatan yang dia miliki”
“Tentu saja dia berhasil, orangtuanya kan kaya”
“Kalau saja aku seperti dia, aku pasti akan sehebat dia. Bahkan mungkin lebih hebat dari dia”
“Gak heran kalau kamu bisa datang lebih pagi, anak-anakmu kan sudah besar”
“Pantas saja tugasnya sempurna, ia punya lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya dari aku”
“Ah aku terlalu tua untuk melakukan semua itu”
“Aku kalah karena dia lebih berpengalaman dariku”

Jumat, 22 Februari 2013

Mengapa Harus Taat Aturan?




Kejadian hari ini mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku adalah seorang pengajar di sebuah Madrasah Aliyah swasta. Hari itu aku duduk berhadapan dengan salah seorang siswa di ruang tamu sekolah. Dia menghadangku dan memaksa untuk “berbicara”  tentang sesuatu hal. Dari pantulan rona di wajahnya aku merasa bahwa siswa ini memendam kejengkelan yang super hebat.
“Saya mohon sekolah ini mempertimbangkan hukuman untuk  Khoirul, siswa kelas III IPS!” katanya dengan suara direndah-rendahkan.
“Kelas III IPS berarti teman satu kelasmu. Siswa yang mendapat hukuman adalah siswa yang melanggar tata tertib.  Pertimbangan seperti apa yang kamu maksud?”
Siswa yang disebutkan itu adalah siswa yang selalu terlambat. Sesuai dengan tata tertib yang berlaku siswa yang terlambat akan mendapat hukuman dari Sie Tatib.
“Saya mohon, Khoirul dibebaskan dari hukuman?”
“Mengapa? Semua siswa yang terlambat mendapatkan hukuman yang sama. Fungsi hukuman itu adalah menyadarkan mereka akan kesalahan yang  mereka lakukan”
“Untuk Khoirul saja bu, saya mohon dipertimbangkan”

Minggu, 10 Februari 2013

NATO




Lakukan apa yang anda katakan dan katakan apa yang anda lakukan. Kata-kata ini indah ya. Kalau diucapkan ada pertautan yang sangat cantik, enak didengar dan gampang nyantol  di kepala.  Tapi hemm sungguh sulit mendapatkan orang yang mampu mengamalkannya.
Idealnya setiap orang itu memang harus konsekuen dengan apa yang dia katakan. Ya seperti pada kata-kata bijak diatas itu.  Tetapi faktanya, ngomong itu jauh….jauh…. lebih mudah dari pada melakukannya. Maklum orang ngomong itu kan cuma modal mulut. Enteng. Tapi giliran harus melakukan apa yang dikatakan ampun deh sulitnya. Masalahnya untuk melakukan itu perlu keberanian, perlu energi, perlu tenaga, waktu dan seabreg modal lainnya.

Kamis, 31 Januari 2013

Tigapuluh Tahun Yang Lalu

sumber gambar dari sini


Hari ini ada peristiwa memilukan. Salah seorang siswa diminta pulang ke rumah sebelum waktunya karena sang ibu meninggal dunia. Bukan karena sakit, tetapi karena kecelakaan saat sang ibu akan pergi bekerja. Menurut informasi yang saya terima, pagi tadi kira-kira jam setengah tujuh, Pak X, ayah siswa tersebut mengantar istrinya (ibu siswa) pergi bekerja. Ibu siswa ini bekerja sebagai karyawan sebuah home industri produsen makanan khas Blitar, Opak Gambir. Jarak antara rumah mereka dengan tempat si ibu bekerja tidak terlalu jauh. Kurang lebih 2 kilometer. Untuk sampai ke tempat pekerjaannya itu mereka harus melewati jalan utama yang pada pagi hari selalu padat kendaraan.
Saat akan menyeberang jalan, suami istri yang berboncengan naik sepeda motor ini tertabrak kendaraan dari belakang. Akibat kecelakaan itu mereka berdua terjatuh. Sang ibu meninggal saat dilarikan ke rumah sakit, sedangkan sang ayah pingsan dan menderita luka-luka di pelipis dan kakinya.
Berita segera sampai ke sekolah. Seseorang yang menyatakan sebagai keluarga korban menjemput ke sekolah dan mengabarkan terjadinya peristiwa tersebut. Pihak sekolah menyanggupi untuk mengantarkan siswa karena dikhawatirkan siswa tidak bisa mengendalikan emosi.
Peristiwa tersebut mengingatkanku pada kejadian tigapuluh tahun yang lalu. Aku masih ingat, saat itu bulan Oktober. Aku duduk dibangku kelas III SMP, semester lima. Pagi itu pelajaran matematika. Gurunya bernama Pak Rifai. Guru matematika yang sangat pendiam. Saat kami asyik mengerjakan soal, Pak Bon  datang mengetuk pintu dan membawa surat panggilan. Beberapa saat kemudian Pak Rifai memanggil namaku. Aku diminta maju ke depan. Kata pak Bon, aku harus ke kantor, menemui kepala sekolah.  

Selasa, 01 Januari 2013

Tahun 2013, Tahun harapanku



sumber gambar: dari sini


1 Januari 2013: 03.54
Tulisan pertama, di pagi buta.

Selamat datang kehidupan. Ini adalah tulisan pertamaku di tahun 2013. Meski aku tidak terlalu mengistimewakan pergantian tahun, tetapi asyik juga punya tulisan pertama di tahun baru. kalau tahun lalu aku menuliskan tentang apa yang ingin aku lupakan,  yang ingin aku kenang dan pelajaran berharga yang kuambil di tahun itu, kini aku ingin menuliskan apa yang aku harapkan ditahun ini.